Bukan Puisiku

Tag

,

/1/
akan ada petaka sekejap
setelah jarum jam tak sempat bicara.
meronta bulu kudukmu
seringkih malam meradang, atau
perutmu membusung, lalu
tak punya satu apapun untuk ditata.
jasadmu mati di bawah pohon kering,
buahnya keriput.

sampaikan kabar gembira ini
bagi siapa yang tersenyum lebar.

/2/
pada hari
bumi latah
dengan guncangan dahsyat,
untahan dari kandungan berat.

pada hari
segalanya lebur
terbang seringan bulu-bulu,
poranda dan kelam.

pada hari
kamu bangkit dari kubur
hanya mampu bertanya
tanpa aksara tanpa aksara.
ada apa?

dan hari ini
kamu hanya bisa mengintip
sedikit demi sedikit
karena kamu masih berdiri
jauh dari kubur.

/3/
di sepanjang jalan cadas
sebagian orang mengatakan, banyak
pohon rindang dan wangi bunga-bunga menggeliat.
tetangga belakang rumah
mengatakan engkau tak bisa bernafas.
seorang teman baru bercerita
bisa menari dan berlari tanpa kaki

kemarin jalan itu kau lintasi
tidak terasa apa.
kau hanya terus menerka
kapan segera tiba?

Iklan

Monolog Rindu

Tag

, ,

Hey, tahukah kau jika aku sedang rindu

Memendamnya dalam laku yang malu

Dan kini rinduku mulai matang

Melunak bagai alpukat yang telah kuperam seminggu

.

Jangan hanya berdiri terpaku

Atau menatapku termangu

Bukan laku itu yang kumau

Cukup bisikkan sebuah kata rindu di telingaku

.

Aih, gelak tawamu makin membuatku tersipu

Namun kunikmati serupa candu

Dengan debaran dada yang bertalu

Beriring pipi merona merah jambu


Cukuplah tingkahmu membuatku gagu

Hingga lidahpun turut beku

Menanti dengan dada sehangat tungku

Sepatah kata rindu yang kuharap tak palsu


Ah, kusudahi saja monolog rinduku

Sudah terlalu lama hati dalam belenggu

Menebak rasamu yang ambigu

Bila benar kau rindu,

Kata itu malam ini kutunggu…

Aku Bukan Lelaki Jahanam itu

Tag

, ,

“Hen.. Hendra!” samar-samar aku mendengar suara memangil-manggil namaku, lalu sentuhan lembut terasa di pipiku.

“Hen, kita sudah sampai, sayang…” ucap suara lembut itu lagi. Dengan bersusah payah, aku coba untuk bisa membuka mata ini. Tapi… Akh! Kepala ini terasa berat sekali. Pening. Dan dalam samar pandanganku, aku menoleh ke arah suara itu. Seorang wanita yang aku kenal tersenyum menatap diriku. Dia adalah Tante Siska.

“Udah sampai kita, Tante?” tanyaku sambil memegang kepalaku yang terasa berat ini. Tante Siska hanya menganggukan kepala. Lalu ia pun membuka pintu, keluar dari mobil, dan berjalan memutar menghampiri pintu dimana aku duduk.

Dibukanya pintu mobil itu,”yuk, tante bantu kamu turun.”

 Lalu diletakannya tanganku di bahunya, sementara tangan kanannya melingkar di pinggangku. Membantu diriku untuk turun dari mobil dan berdiri.

“Kamu mabuk berat tadi, sayang..” ucap Tante Siska, sambil tangannya mengelus lembut pipiku. Baca lebih lanjut

Tuhan Telah Pulang

Tag

, , ,

Oleh: Ramdhani

Tuhan telah pulang
tersesat di antara rembulan
kala matahati bisu dari dzikir
Melekatlah dahi ini mengganjilkan bilangan-bilangannya

Tuhan telah pulang
bertamu di mesjid-mesjid
di surau
di kantor
di sekolah
di pasar
di jalan raya
di rumah-rumah
di hati
di napas
di darah kami

mengantri kami berjabat tobat, karena kami rindu menyapu laknat saat Kau pergi

Sungguh Tuhan telah pulang
kami bersimpuh di genggaman-Mu
berharap Kau tak lagi menghilang

Cirebon, 30 Sya’ban 1430