Tag

, ,

Tentang Supeni, Kelamin, dan Anjing
Oleh : Ramdhani Nur
a
Supeni dipecat lagi. Sial sekali. Padahal baru kemarin naik jabatan dari tukang cuci piring menjadi pelayan makanan yang menawarkan menu pada sang tamu. Masalahnya sederhana saja. Karena latah. Supeni tak bisa menahan ikut nyerocos ketika sendok terjatuh dari nampan. Mungkin tetamu dan sang pemilik rumah makan tak akan mempermasalahkan jika kata-kata latah yang keluar dari bibir Supeni terhitung wajar. Ini tidak. Sangat tidak sopan. Entah apa yang tersimpan di memori otaknya, begitu sendok terjatuh, meluncurlah kata-kata kotor—yang tak lain adalah alat kelamin laki-laki—berulang-ulang tanpa kendali. Tentu tak akan saya tuliskan di sini. Ini kesalahan fatal, karena rasa malu sang pemilik tidak juga hilang meski dimuntahkannya maaf berkali-kali pada sang tamu. Jika kondisinya begitu, jangan lagi ditanya pengaruh kata maaf Supeni pada sang pemilik rumah makan. Tak berarti sama sekali.

Supeni sedih. Tentu. Meski sudah dieling-elingkan Kartinah, hatinya tetap tak terima nasibnya harus hancur gara-gara kebiasaan buruknya yang dia sendiri tak ingat musabab awalnya. Pekerjaan lain masih bisa didapat, kalau mau lebih tekun untuk mencari. Kata-kata Kartinah itu tak cepat bikin sedih Supeni meleleh. Baru tiga bulan lalu dia dipecat. Masalahnya sama, mengumbar cerocosan kemaluan lelaki di depan pengantri pengisi BBM di sebuah SPBU. Knalpot yang mendentum tiba-tiba menjadi penyebabnya. Meski pengantri itu kontan tertawa-tawa, tapi tidak bagi sang pemilik SPBU. Sama sekali tak ada yang lucu. Begitu juga dengan nasib Supeni setelahnya.

Hanya kepada Kartinah-lah Supeni senang berbagi rasa, kisah, dan keluh kesah. Meski tak benar-benar hilang, tapi ada yang terasa mengalir lepas setiap kali pulang dari rumah Kartinah. Termasuk soal kebiasaan latahnya itu. Supeni sering memaki diri di hadapan Kartinah.

“Sabar, Pen. Mesti dilatih!”

“Susah, Tin. Latah saya itu keluar sendiri tanpa saya perintah.”

“Kamu jangan sering-sering membayangkan anu ….”

”Apa?”

“Ituuu …, punyanya laki-laki!”

“Lah, gimana bisa membayangkan, Tin? Seingat saya, lihat saja belum pernah.”

“Serius, Pen?”

“Seingat saya memang begitu. Memangnya saya pernah lihat punya siapa? Paling punya Dik Bowo, keponakan saya yang baru disunat dua bulan lalu. Tapi pasti bukan karena itu.”

“Di internet?”

“Di internet saya cuma buka facebook, itu pun dari hape. Saya malah jijik melihat yang begitu begitu.”

“Mungkin karena itu ….”

“Karena apa?”

“Karena kamu mati-matian menolak membayangkan apa yang sebenarnya wajar dialami oleh perempuan. Entah kamu punya pengalaman apa, tapi semakin kamu tahan, bayangan itu semakin itu menguat dalam memori otakmu. Wajar saja saat kamu latah kontan yang keluar kata-kata jorok itu.”

Njlimet kamu, Tin.”

“Ha ha ha! Kamu baru mengerti nanti, kalau kamu sudah menikah.”

“Sementara saya belum menikah, apa saranmu biar saya nggak latah jorok lagi.”

“Kamu harus mengganti latah kamu.”

“Ganti gimana?”

“Ganti pakai bacaan zikir. Lebih bagus itu. Tapi kamu harus banyak-banyak zikir dulu, biar bisa menghapus alam bawah sadarmu yang jorok itu.”

“Kamu yakin itu bakal berhasil?”

Nggak tau juga. Tapi layak dicoba. Setidaknya kamu dapat pahala dengan banyak baca zikir.”

“Zikir apa?”

“Apa saja. Kau bisa tanyakan pada Murjoto, penjaga musala.”

“Guru mengaji itu?”

“Si Pengusir Anjing.”

“Ha ha ha! Dia benci benar pada anjing. Sampai-sampai saya lupa bagaimana suara lolongan anjing, karena di desa kita anjing-anjing sudah lama menghilang. Tapi dia lelaki yang baik.”

“Kau boleh menemuinya.”

“Ya, tak ada salahnya dicoba.”

Segala hal tentang Murjoto memang mudah diingat. Di desa ini tak banyak orang yang cukup aneh seperti Murjoto, di usia yang menjelang lima puluh Murjoto tetap memilih membujang. Bukan masalah tampang. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun Murjoto selalu saja terlihat menghindar dari perempuan yang mencoba mendekatinya. Homo? Tidak. Setidaknya itu yang dia tegaskan secara lantang pada tiap orang yang meragukan kelelakiannya. Murjoto sendiri mengaku menyimpan hati pada Kaesih, janda almarhum Partikno. Sayangnya, jangankan sekadar bertemu atau berbincang, bertukar pandang pun Murjoto sudah sedemikian malu. Tapi sikap ini sangat jauh berbeda jika dia berhadapan dengan anjing-anjing. Dia seolah berubah menjadi iblis. Tak sampai melukai, tapi tiap kali mendapati anjing-anjing berada di dekatnya, Murjoto terlihat begitu puas melemparinya dengan sadis. Kecuali soal perangainya pada anjing-anjing itu, Murjoto terbilang orang yang kalem dan pendiam.

Murjoto tinggal di bilik musala. Sengaja disediakan Lebe Tugidi sebagai jasa menjaga musala. Murjoto memang bukan asli penduduk sini. Banyak yang mengira dia masih sanak keluarga Lebe Tugidi dikarenakan kemiripan wajah dengan imam musala itu. Tapi soal nasib tidak mirip sama sekali. Berbeda dengan Lebe Tugidi yang memliki kebun pisang dan kolam pancing, penghasilan Murjoto cuma dari jasa mengajar mengaji anak-anak setempat. Paling banyak seratus ribu sebulan. Salah satu muridnya dahulu ya Supeni itu. Hanya saja Supeni berhenti mengaji saat baru sampai Iqro empat. Supeni mulai mengalami menstruasi. Musala menjadi tempat yang terlampau suci untuk didatangi oleh gadis macam Supeni. Supeni merasa menjadi orang yang berdosa pada saat menstruasi. Bayangkan, jika saat itu tiba, bahkan untuk beribadah pun tidak diperkenankan. Pada awal-awal Supeni berhenti mengaji, Lebe Tugidi sempat meminta Supeni untuk kembali. Supeni menolak. Selain memang dilarang Murjoto, Supeni khawatir menstruasi itu datang tepat saat dia berada di musala. Tentu bisa jadi bencana. Terlebih kawan-kawan perempuan belajar mengajinya belum ada yang bernasib sama dengannya. Menstruasi di usia sebelas tahun.

*****

Untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, akhirnya Supeni menemui musala. Menemui bujangan Murjoto. Bukan di bilik musala, melainkan di sumur samping halamannya. Supeni mendengar jawaban salam Murjoto dari arah sana. Murjoto terkaget-kaget didatangi seorang gadis. Bukan hal yang terlalu biasa baginya. Tak setiap hari dia ditandangi seorang perempuan. Murjoto pernah mengingat wajah Supeni tapi tak mirip serupa wajah ini.

“Siapa, ya?”

“Saya murid mengaji Bapak dahulu.”

“Yang mana, ya?”

“Saya Supeni Pancawati, putri Bapak Wasmuji.”

“Ah, iya! Astaghfirullah, ini Supeni yang itu … sudah besar kamu!”

Murjoto terkesima. Ember cuci yang digenggamnya terlepas. Menghempas ubin. Brak! Supeni terkaget. Latahnya menjangkit. Murjoto kembali terkesima. Kaget bercampur malu. Cerososan kotor dari mulut Supeni menggema. Masih sama, mengobral alat kemaluan pria. Tentu pula tak akan saya tuliskan di sini. Mau bagaimana lagi. Latah Supeni baru bisa berhenti setelah diistighfarkan oleh Murjoto. Supeni hampir menangis membendung malu. Bayangkan saja, seorang gadis muda mengumbar kata kemaluan pria, di depan bujangan alim, di halaman musala pula. Kurang kebangetan apa lagi? Namun Supeni masih bisa menenangkan diri, kemudian dilanjutkan dengan aksi duduk tersungkur pada sisi sumur.

“Inilah salah satu alasan saya dulu tak mau lagi kemari, Pak Mur. Dan dengan alasan itu pula akhirnya kini saya kembali.”

“Soal latah itu?”

“Latah jorok, Pak Mur.”

“Ya, kenapa?”

“Saya malu. Bertahun-tahun saya hidup dengan dosa ini. Hidup tapi mati. Langkah saya sangat terhalangi; bekerja tak pernah bertahan lama; lelaki tak ada yang datang sekadar melirik. Soal omongan dan cibiran orang sudah tak saya pedulikan lagi. Tapi saya ingin hidup normal. Saya ingin bebas, Pak Mur.”

“Saya bisa mengerti. Tapi apa yang membuat Dik Peni berpikir saya bisa membantu masalah Dik Peni?”

“Saya tidak berpikir, Pak Mur. Saya cuma menuruti saran teman. Katanya, latah jorok saya akan hilang jika saya sering-sering baca zikir. Itulah tujuan saya kemari. Saya bermaksud meminta bacaan zikir yang cocok buat mengganti latah jorok saya.”

“Saya tak punya bacaan zikir yang seperti itu.”

“Tidak punya?”

“Ya.”

“Tidak ada sama sekali?”

“Tidak.”

“Ah, sayang sekali.”

“Tapi kalau Dik Peni percaya pada saya, saya mungkin bisa membantu dengan cara lain.”

Supeni terlanjur mengangguk. Sebuah persetujuan non verbal yang memiliki kekuatan legal. Murjoto menangkapnya dengan cermat. Kemudian Supeni digiringnya pada teras bilik musala. Supeni menurut saja saat diperintahkan Murjoto untuk bersandar dan tenang. Seperti berbisik, Murjoto melontarkan mantra-mantra tepat di wajah Supeni. “Yang bangun sesungguhnya tertidur, yang tidur sesungguhnya terbangun.” Demikian berulang-ulang. Tidak jelas itu ilmu apa. Tidak pernah pula ada yang mengetahui Murjoto punya keahlian semacam itu. Namun itu sanggup membikin mata Supeni terpejam perlahan. Dan lher! Supeni kemudian tertidur. Tidak persis seperti yang biasa kita lihat di televisi tapi hampir serupa itulah yang terjadi. Supeni ndelosor di teras bilik musala. Murjoto menarik napas dalam-dalam, bersiap melakukan aksi selanjutnya.

”Percayalah, Dik Peni, saya tidak akan berbuat buruk terhadap Dik Peni. Semata-mata saya melakukan ini karena ingin menolong Dik Peni dari segala masalah yang menghantui Dik Peni hingga saat ini. Kalau Dik Peni mengerti silakan menganggukkan kepala.”

Supeni mengangguk.

“Saya ingin Dik Peni mengingat-ingat kembali ke masa sepuluh tahun silam. Masa terakhir kali Dik Peni berhenti belajar mengaji pada saya. Saya ingat saat itu hari Kamis, saya diperintah Lebe Tugidi membeli bibit nila di Pasar Gede, maka itu saya liburkan kegiatan mengaji. Tapi Dik Peni sepertinya tidak menerima informasi itu. Dik Peni tetap datang. Saya tidak tahu apa yang terjadi kemudian. Tapi saya bisa menerka makna tangis Dik Peni setibanya saya kembali ke musala saat ada yang tertinggal. Saya juga ikut menangis, terutama karena saya diancam Lebe Tugidi untuk tak menceritakan apa yang membuat saya menangis.”

Entah dengan cara apa Murjoto bisa menghubungkan emosi dalam kata-katanya itu pada tubuh Supeni yang terpulas. Namun guratan-guratan pada kulit pipi Supeni seperti pula ikut merasakan. Berdenyut, kemudian mengilat disebabkan pantulan sinar senja oleh titik-titik air matanya yang turun.

“Mungkin Dik Peni tidak bisa terlalu mengingat itu semua. Karena saya telah melakukan hal seperti yang tengah saya lakukan saat ini; membuat Dik Peni lupa pada kejadian di hari Kamis sepuluh tahun lalu itu. Satu hal yang mesti Dik Peni sadari, Dik Peni masih suci. Dia tak berhasil menyentuh Dik Peni lebih dari apa yang sempat saya saksikan. Saya merasa ikut bertanggung jawab atas kebiadaban itu. Sayangnya usaha saya tak sepenuhnya berhasil, saya terlampau telat untuk mengantisipasi semua. Trauma itu masih terus menembus Dik Peni, hingga muncullah kebiasaan latah itu ….”

Ilmu Murjoto sepertinya sudah sedemikian tinggi. Kata-katanya begitu manjur. Supeni terlihat semakin bereaksi. Getaran di dadanya seperti sebuah pusat gempa. Mengalirkan lava pada matanya, mengguncangkan emosi pada tubuhnya. Gelagat ini diyakini Murjoto sebagai tanda upaya penyembuhannya berjalan baik.

“Kalau Dik Peni sudah siap, mari kita mulai prosesi penyembuhannya. Saya berkeyakinan dengan cara inilah Dik Peni akan terbebas dari trauma masa lalu dan bayangan-banyangan tentang alat kelamin Lebe Tugidi yang menjadi sumber latah Dik Peni. Bagaimana?”

Supeni mengangguk. Murjoto menahan napas, kemudian mulai melakukan prosesi penyembuhannya. Tanpa ragu Murjoto melepas sarungnya. Plong! Tubuh bagian bawahnya polos saja tak tertutup apa-apa. Didekatkan bagian tubuhnya itu pada wajah Supeni. Tanpa ragu, tanpa terganggu. “Silakan Dik Peni buka mata!”

Supeni menurut. Tetap dalam kekhusyukan mantra Murjoto, lamat-lamat mata kecil Supeni terbuka. Lebar dan setengah terbelalak. Tubuh polos Murjoto lahap-lahap ditelan tatapannya. Supeni terpana. Tak ada yang pernah begitu menggetarkan perasaannya kecuali terhadap apa-apa yang terlintas dalam pandangannya. Termasuk pandangannya terhadap tubuh polos Murjoto.

“Lihatlah, tidak ada apa-apa di sana. Anjing-anjing itu telah mengambilnya.”

*****
Supeni dipecat lagi, sial sekali. Padahal baru seminggu dia bekerja menjadi penerima tamu di panti pijat milik Rokibin. Masalahnya sederhana saja. Karena latah. Tiap kali ada yang membuatnya tersentak, mulut Supeni kontan memuntahkan kata-kata yang begitu mengganggu siapapun yang mendengarnya. Seperti saat ini. Ketika suara erangan menggema dari bilik nomor tiga, latah Supeni pun mulai menggelegar: “Anjing, anjing, anjing ….”

*****

Cirebon, Maret 2014
Sumber gambar: ColourBox

Iklan