Tag

, ,

kabarnya menjalar dari mata ke bibir,
lalu bibir mengulum kuping kemudian banyak yang nyengir.
bahwa ia sanggup menemukan juga menerka puisi
yang bakal dari mimpi malam milik orang-orang kasihan,
meski hal demikian bukan ia harapkan
bahkan mengakibat ia jengah menampakkan diri.

sampai akhirnya berbagai orang kasihan rela
mengantrikan waktu mereka padanya
agar ia mengorek habis semua puisi
dalam mimpi yang baru mereka temui.

“semalam kutemui bidadari menggotong berkarung cabai!”
“bolaku kempes digigit pak kades!”
“sekolah anakku roboh digilas gedung tinggi!”
“aneh, bom ikan kujadikan rompi. ada apa ini?”
“kenapa aku jadi kenek pesawat terbang,
bukankah pesawat tidak butuh kenek?”
dan masih banyak mimpi mereka bila dituruti.

karena gerah enggan menggubris jawaban,
ia sembunyi di kamar mandi. lama sekali.
“jangan ganggu aku dulu”, katanya pada istrinya yang takut hampir mati.
sedang orang-orang kasihan masih rela mengantri tidak mau mati.

“aku menulis puisiku sendiri untuk mimpiku malam nanti.”
“sudah jadi?” tanya istrinya hati-hati.
“tidak jadi!” sambil menenggelam diri dalam bak mandi.
“nafasku luntur disini. usir saja mereka
atau bantu aku menulis puisi.”
__________
april, 2011

Iklan