rasanya aku akan mencumbumu lagi bila engkau masih saja melirikku binal seperti itu. entahlah. padahal engkau hanya selembar kosong. tapi setiap kali lenggangmu di hadapanku, akan engkau  tinggali sehelai pintu yang sebelumnya sudah kau tiupi semerbak birahi. pasti kuhampiri pintumu itu. lekas kuhirup dalam, lalu kusibak perlahan dengan mataku yang tidak mungkin berkedip. kemudian terbukalah duniamu: halus kulit biru langit yang kadang kelabu, kadang merona jingga, juga sujud gunungmu pada mata air yang paling dalam, dan tapak tetumbuhan hutan yang begitu lebat kesegarannya. maka menghangatlah nafasku dan akan kutelusuri semua itu.

tapi penaku tak bisa berdiri kali ini. tiba-tiba nafasku menghembuskan dingin yang begitu sepi. tidak setetes tintapun yang bisa kumuntahkan lagi.

mungkin karena tiba-tiba engkau menggemulai tatih. sia pelukanmu, sebab engkau terus menunduk dan merintih perih. bukan lagi sehelai pintu yang seharusnya kau jamahkan padaku, tapi sobekan kain kumal busuk dengan ribuan lalat mengerubung, lalu lalat-lalat itu menelanjangi mataku dan memuntahkan duniamu dalam kedipanku: hamparan kulit kasar. menyerupa negeri dipenuhi gerombolan kuman yang menyerap habis susu dari seluruh lautanmu, menggerogoti semua akar hingga rimbunan belantaramu rubuh. tidak berpegunungan, hanya bukit-bukit tipis dari bongkahan amis. kitaran awannya hanyalah gumpalan-gumpalan batu besar yang tinggal menunggu dilempar gelegar halilintar.

maka seketika penaku lumpuh. tidak seaksara pun dari tubuhmu mampu tersentuh.

Iklan