Aku sering sekali bermimpi. Ular-ular, entah dari mana datangnya mengerubuti dan membelit-belit kedua kakiku, merayap naik dan mematuki perut buncitku.

“Aku takut sekali, Mas,” kataku pada suamiku untuk kesekian kali.

“Ah, berapa kali harus bilang kalau itu cuma mimpi..tidak usah terlalu banyak dipikir,” jawabnya pendek. Selalu begitu. Anehnya aku selalu terdiam. Mungkin memang benar, cuma mimpi, tapi kenapa selalu berulang sampai tujuh kali?

Kata orang, perempuan yang sedang hamil selalu mempunyai perasaan yang aneh-aneh, bahkan kadang melakukan tindakan-tindakan yang aneh pula. Melihat gejala yang kualami ini, aku bisa membenarkan. Tapi semua menjadi tidak benar jika aku teringat asal muasal mimpi-mimpi burukku itu.

Saat usia kehamilanku baru empat bulan, mas Santo, suamiku yang baru pulang dari sawah, bercerita padaku bahwa dia bertemu ular di tegalan.

“Aku baru ketemu ular. Weling, besarnya segini,” katanya enteng sambil merapatkan jari telunjuk dan tengahnya dengan maksud untuk menggambarkan besar ular itu.

“Terus?” tanyaku acuh sambil menuangkan air ke gelas minumnya.

“Terus aku bandhem pake batu.”

Aku tersentak.

“Mati?

“Mati. Aku buang ke saluran irigasi.”

Pada saat itu juga jantungku degupnya makin kencang dan rasa mual yang asing melanda perutku. Aku nyebut dalam hati sambil mengelus-elus perutku, tapi mas Santo nampak tidak memperhatikan perubahan sikapku itu, dia asyik dengan makan siangnya.

“Mas lupa kalau aku sedang hamil?” tanyaku setelah menenangkan gejolak itu.

“Memang kenapa?”

Aku menghela napas dan duduk di sampingnya.

“Aku takut ada apa-apa dengan anak kita.”

Mas Santo menghentikan suapan nasi di depan mulutnya dan meletakkannya kembali di piring. Matanya menatapku seperti menegur.

“Mas ingat cerita tentang Rudi anak pak Kardi? Kakinya yang seperti itu kata orang gara-gara perbuatan bapaknya. Mas tahu ceritanya, to?”

“Iya, aku tahu. Kata orang, dulu sewaktu istrinya lagi hamil si Rudi itu, pak Kardi melempar anjing yang masuk ke pekarangannya sampai kaki anjing itu pincang, to? Ningsih, kamu ini seperti anak kecil saja, gampang percaya sama cerita-cerita begitu,” kata suamiku sambil menggeleng-gelengkan kepala dan meneruskan makannya. Aku gemas melihat sikapnya itu.

“Harusnya mas tidak bunuh ular itu. Mas memang tidak percaya cerita tentang si Rudi itu, tapi aku percaya, Mas! Itu membuatku takut..”

“Ah, sudahlah..tidak usah dipikirkan. Yang sedang hamil ‘kan, kamu. Kalau ada apa-apa dengan jabang bayi di perutmu, itu tanggung jawabmu. Jabang bayi dalam perutmu itu bisa merasakan pula apa yang dirasakan oleh ibunya, makanya positif saja. Tidak usah pusing memikirkan bapaknya yang membunuh ular di jalan!”

Aku hanya diam. Suamiku itu begitulah orangnya, selalu berbuat sekehendak hatinya. Diapun agaknya tidak akan mudah percaya dengan cerita-cerita macam itu karena sejak kecil dia dididik oleh kakeknya yang seorang guru dengan pemikiran-pemikiran yang modern dan rasional. Ayah mertuaku, ayah mas Santo, hanya sibuk berdagang sejak mudanya, melintas daerah sehingga sedari kecil memang kakeknyalah yang lebih berperan dalam pengajarannya. Setelah percakapan denganku itu, dia tidak pernah menyinggung-nyinggung masalah itu, tapi sejak itu aku senantiasa ketakutan dan selalu dihantui mimpi-mimpi buruk yang sama. Mimpi tentang ular.

Aku memang telah mencoba berbagai hal untuk melupakan mimpi-mimpi itu, mencari kesibukan dengan tetek bengek urusan rumah, banyak bergaul dengan tetangga, bersosialisasi karena sebagai pasangan baru dan pendatang walaupun cuma berbeda desa dengan desa asal suamiku kami praktis masih belum terlalu mengenal tetangga-tetangga kami terkecuali yang berada di depan, belakang atau samping rumah kami. Tapi tetap saja semua percakapan sehari-hari ujung-ujungnya sampai pada ceritaku tentang mimpi-mimpiku itu, mungkin karena kekhawatirankulah yang membuatku ringan bibir untuk sekedar membaginya dengan orang-orang dan syukur jika mereka bisa dimintai pendapat mengenai hal itu.

Dan memang, sebagai orang-orang yang hidup dalam kungkungan fanatisme tentang mistisisme yang pagan, mereka cenderung malah semakin membuatku takut.

“Aduh, saya juga merinding itu, Mbak, ” kata bu Banjir saat tetangga sebelah rumahku itu kuceritakan tentang mimpi-mimpiku. Berkali-kali dia menggosok-gosok kedua lengannya yang bersilang di depan perutnya.

“Apalagi saya, Bu,” kataku sambil memegangi perut buncitku.

“Mbak sudah kenal sama pak Kardi, to?” tanyanya kemudian. Pasti dia ingin menyamakan ceritaku dengan cerita tentang si Rudi anak pak Kardi yang kecil sebelah kakinya.

“Sudah, dia itu yang bantu-bantu suamiku di sawah,” jawabku.

“Sudah tahu juga ceritanya si Rudi anaknya?” tanyanya lagi. Aku mengangguk.

“Nah, itu cerita nyata, Mbak.”

Lalu meluncurlah cerita dari mulutnya yang sebenarnya lebih tepat sebuah pembahasan akan sesuatu hal yang telah diketahui. Yang menarik adalah komentar akhirnya yang lain daripada yang lain pernah kudengar.

“Anjing itu orang sakti yang menyaru,” katanya setengah berbisik, “bukan anjingnya orang desa ini. Kebetulan saja dia lewat dan dilempar sama pak Kardi, karena kesakitan pasti dia nyepatani, mengutuk, karena itu si Rudi jadi begitu.”

Aku merasakan desiran dalam dadaku.

“Yang namanya orang sakti, mau jadi anjing, babi, kucing atau ular..gampang, Mbak.”

Ringan saja bicaranya mengenai orang sakti yang bisa berubah-ubah wujud dan gemar mengutuki siapapun yang mereka mau. Tidak berniat menakut-nakuti, itu aku tahu, tapi tentu saja hatiku menjadi semakin kecut mendengar itu.

Dan akhirnya mimpi-mimpiku itu agaknya mencapai puncaknya setelah usia kandunganku tinggal menunggu waktu saja.

Ular dan ular di mana-mana. Semua merayap naik dan mematuk perutku, membelit leher dan berayun-ayun di kepalaku. Aku berteriak-teriak histeris sampai mas Santo membangunkanku.

“Ular, Mas! Ular!” teriakku dengan napas terengah-engah.

“Astagfirullah, Ningsih! Nyebut..nyebut!” berkali-kali suamiku menyuruhku ber-istighfar. Seluruh tubuhku terguncang dan bibirku gemetaran. Pada saat itu pula kurasakan perutku mulai bergejolak, sakitnya luar biasa.

“Perutku, Mas!” aku mengerang.

Tanpa kata-kata, mas Santo sepertinya telah paham bahwa inilah saatnya, saat anaknya yang pertama akan segera lahir.

Disambarnya jaket tebal yang tergantung di balik pintu dan dikeluarkannya tas besar yang berisi keperluan persalinan yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya dari dalam lemari. Setelah memakaikan jaket itu padaku, dengan perkasa dia menggendongku sekaligus membawa tas besar itu di tangannya menuju mobil bak terbuka pengangkut pasir milik mertuaku yang sengaja dipinjam suamiku untuk menghadapi situasi seperti ini.

Dalam perjalanan ke rumah bidan Lastri di kecamatan, mas Santo tidak henti-hentinya menenangkanku yang terus mengerang kesakitan.

“Sebentar lagi..sebentar lagi sampai. Sabar, Ning..”

****

Di kamar bersalin yang sederhana milik bidan Lastri itulah aku berjuang antara hidup dan mati. Entah berapa lama perjuanganku itu karena rasanya seperti berjam-jam di sana dan seperti telah terkuras habis semua tenagaku, sewaktu pecah tangis anak pertamaku.

Ada perasaan bahagia bercampur ketakutan yang mengiringi terkulaiku di atas ranjang persalinan itu. Bahagia karena aku telah melewati ujian terberat dalam hidupku, ketakutan jika aku berpikir tentang ular yang dibunuh oleh suamiku juga mimpi-mimpi burukku. Suamiku..ah, ya, di mana dia?

“Laki-laki, Mbak” kudengar bidan Lastri.

Ah, laki-laki. Sempurnakah fisiknya? Genapkah sekujur anggota tubuhnya? Bersisikkah kulitnya, seperti ular? Aku lalu didera pertanyaan-pertanyaan yang tidak masuk akal yang sebenarnya tidak pernah ingin kupikirkan sama sekali.

Aku ingin berkata pada bidan Lastri bahwa aku ingin melihat anakku itu, tapi bibirku tidak mampu bergerak. Hanya suara degup jantungku sendiri pada telingaku dan napasku yang mendengus-dengus seperti seekor kambing tua.

Seperti paham, bidan Lastri mengangkat anakku tinggi-tinggi.

“Ini dia..ganteng, seperti bapaknya.”

Aku memandangi anakku yang berada dalam gendongan bidan Lastri dengan takjub. Itukah dia anak pertamaku? Jika benar demikian, sungguh, itulah keindahan surgawi yang tertular ke dunia, pikirku.

Begitu elok parasnya, sempurna bentuk tubuhnya, jauh dari khayalanku atas ketakutanku selama ini. Syukurlah, Tuhan mengabulkan doaku selama ini. Aku terpejam dalam rasa syukurku yang tak terhingga, hampir menangis.

“Sudah puas melihat, Mbak?” kudengar bidan Lastri. Aku mengangguk tanpa membuka mata karena rasa pusing menyerangku tiba-tiba.

“Boleh saya bawa sekarang?” lamat-lamat kudengar kembali suara bidan Lastri. Dibawa? Dibawa kemana? Pikiranku mulai menceracau dan pusingku semakin hebat, kepalaku terasa berat. Kubuka kedua mataku dengan susah payah. Muncul perasaan asing yang tidak nyaman di hatiku, tapi aku tak tahu namanya. Kurasakan pula degup jantungku yang sempat mengendur kini mulai berdegup kencang kembali. Di sana, di dekat jendela terbuka yang memperlihatkan kegelapan dinihari yang menyelimuti pepohonan cengkeh di luar sana, kulihat bidan Lastri mendekap anakku di dadanya seperti bersiap meloncati jendela itu.

“Boleh saya bawa?” tanyanya lagi kepadaku, matanya pun langsung menatap pada mataku seperti meminta penegasan. Kemudian dia tersenyum.

Aku terkesiap. Seperti tiba-tiba saja darahku berhenti mengalir. Senyum itu…begitu lebar..begitu seram..

Aku menggigil di antara kesadaranku yang kurasakan hampir punah.

Lalu kulihat bidan Lastri membuka mulutnya. Di antara sadar dan tidak, aku melihat sesuatu keluar dari rongga mulut itu. Aku masih bisa mengenali, itulah lidah bidan Lastri..begitu panjang dan berkilat-kilat kehitaman. Seperti ular.

Semua kemudian menjadi gelap.

Cilacap, 2001

Gambar dari sini

Iklan