Oleh: Ramdhani Nur

Tria terjebak di depan sebuah etalase meubel antik. Hujan sepertinya akan berhenti saat dia berangkat dari rumah tadi. Tapi ternyata tidak. Untunglah dia cepat menemukan trotoir yang cukup nyaman ketika hujun turun menggila. Tria berdiri mematung, membiarkan blus putihnya tetap basah. Galau dan resah jelas terlihat dari wajah dan gerak-geriknya yang tak pernah tercipta sempurna. Berkali-kali diantara usapan keras di lengannya, jemari lentiknya meraih hand phonenya untuk sekedar memijit salah satu tombol kemudian menaruhnya kembali pada tempat semula. Setelah itu wajahnya berubah kecut.

Hari belum gelap benar tapi jarak pandang memang agak sedikit kabur oleh garis hujan yang rapat. Di atas kepala Tria, tenda yang terbuat dari terpal seperti memainkan harmoni saat beradu dengan air hujan yang menghempas. Pikiran kosongnya hampir saja larut ke dalam alunan itu sebelum sebuah getaran di tas kecil menganggetkan Tria. Kali ini dia mengangkat hand phonenya dengan sedikit geram.

“Apa lagi sih maumu, Jo?” bentak Tria.

“Kamu dimana? Aku jemput!”

“Buat apa? Aku sudah bilang aku akan mengakhirinya seperti yang kamu minta.”

“Betul. Tapi aku nggak memintamu menemui dia!”

“Please, Jo! Aku sudah banyak berkorban untukmu. Termasuk memupus perasaan cintaku untuk dia. Bolehkan aku sedikit menghargainya dengan sebuah pertemuan?”

“Akulah kekasihmu yang perlu kamu hargai bukan dia!”

Satu kilat menyambar bumi membarengi hujan yang mulai mereda. Hingga isak Tria bisa terdengar oleh telinganya sendiri.

“Jangan paksa aku mengungkapkan ini lagi, Jo. Kamu tau aku nggak pernah mencintai kamu, karenanya jangan harap aku menghargaimu. Aku membenci kondisi ini sedalam aku membenci orang tuaku yang membuatku tak memiliki pilihan lain selain menerimamu. Sementara kamu sendiri sama sekali tidak pernah membuat ini jadi lebih nyaman.”

Hp ditutup kasar. Isaknya makin menjadi. Untung saja beberapa orang di sampingnya sudah beranjak satu-satu hingga tak perlu mendengar duka Tria. Kemudian seperti ada yang menggerakkan kedua kakinya bertolak menyusuri trotoir basah.

Sumber gambar dari sini

Iklan