Tag

, , ,

Carrot

“Aku benci wortel!” Ujar Aris sambil menyisihkan potongan-potongan berwarna oranye dari piringnya.
“Aku ga suka kembang kol!” Arif pun tak mau kalah, tangannya sibuk memisahkan kembang kol dari kumpulan sayuran yang lain. Sepasang mata menatap laku mereka, sedih.
“Tapi, Ute kan udah capek-capek masakin capcay ini buat kalian…” pemilik mata itu akhirnya berbicara dengan nada yang kecewa. Tapi Aris dan Arif tak peduli.
“Sudahlah Ute, mereka memang begitu. Mereka tidak punya daya khayal tinggi. Membayangkan sayuran-sayuran ini seperti potongan daging yang heemm…..enyak enyak enyak,” Ma’mar terlihat sangat menikmati suguhan dari Ute hingga suapan terakhir.
“Kamu kan sudah tahu kita ga suka sayuran, kok masih juga masak capcay. Yang lain dong.” Aris meletakkan piringnya sambil memandang jijik pada tumpukan wortel yang telah disisihkannya. Ute diam.

Dari arah yang lain Dhani dan Naim datang. Berlari-lari kecil mendekati Aris dan yang lainnya.
“Pada ngapain?” Naim bertanya sambil memandangi piring-piring yang terletak. Tangannya mengusap ingus yang mengintip dari dua lubang hidungnya.
“Lagi dipaksa makan sayur, yeeeeek,” Arif menampakkan muka tidak senang pada suguhan di piringnya..
“Hahahaha… yuk main bola saja. Aku baru dibeliin papa bola baru nih…” Dhani memamerkan bola plastik di tangannya.
“Ayo…!!” Aris dan Arif menjawab dengan semangat. Mereka segera berdiri dan berlari menuju lapangan.
“Dasar Ute, sayur beneran saja kita ga doyan, apalagi bohongan,” gerutu Aris yang diaminkan Arif.

Di lapangan, teriakan Aris, Arif, Ma’mar dan Dhani yang saling berebut bola terdengar nyaring. Di bawah pohon beringin, Ute merengut melihat mainan masak-masakannya serta potongan-potongan daun yang berceceran.

Iklan