Tag

Napasku hampir habis, tubuhku kelelahan dan keringat semakin deras membasahi tubuhku seperti mata air yang dipompa dan deras memancar melalui pori-pori. Aku tengah diburu dan aku tidak mau tertangkap walau kaki-kaki lelahku tersaruk-saruk bebatuan, semak-semak, pun terjatuh beberapa kali.

Aku harus mempertahankan nyawaku!

Jantungku seperti ambrol. Di hadapanku kini sebuah parit yang lebar dan cukup dalam menghadang pelarianku. Untuk melompatinya aku sangsi karena tenagaku sudah tidak memungkinkan. Aku hanya bisa berlari-lari panik menyusuri pinggirannya, berharap menemukan sebuah pijakan atau titian yang dapat membuatku sampai ke seberang. Sayang yang kucari tidak kudapatkan, sebaliknya keraguanku untuk melompat justru membuat jarak mereka semakin dekat!

Sudah tidak ada waktu lagi karena lamat-lamat kudengar suara mereka tidak jauh di belakangku. Dalam rasa takut dan panik, tanpa berpikir panjang aku nekad menuruni dinding parit yang ternyata cukup tinggi dan curam itu; meluncur dengan pantatku. Baru setengah jalan, tubuhku terdorong ke depan dan berguling-guling sebelum akhirnya terbanting keras tepat di bagian dasar parit yang tak berair.

Mereka semakin dekat, terdengar sumpah serapah dan ancaman-ancaman para penjahat pencegatku itu. Sumpah, beberapa saat yang lalu kupikir mereka hanya ingin menguasai sepeda motorku dan sedikit benda-benda berharga yang telah dengan ketakutan kuberikan di bawah ancaman mereka, sebuah note book dan kamera saku, tapi ternyata mereka meminta lebih dari itu: nyawaku yang hanya selembar ini!

“Kemana orang itu?” tanya salah seorang dari mereka.

“Tidak akan jauh dari sini. Aku tahu parit ini tidaklah terlalu deras airnya dan dangkal, tapi panjangnya mencapai sungai besar di seberang persawahan dusun ini. Jika dia mengambil keputusan menyusur pinggirannya, sejak tadi pasti sudah terlihat,” jawab yang seorang.

Aku semakin merapatkan tubuhku pada dinding parit dengan permukaan yang sedikit menonjol yang kupikir akan menyilapkan mata mereka. Parit ini cukup dalam, sekira 3 meter dengan air pada dasarnya yang hanya mengalir kecil pada bagian tengahnya sehingga aku akan bisa merangkak di tepian dasarnya yang kering untuk sedikit-sedikit mencoba menjauhkan diri dari mereka.

Aku mulai merangkak seperti kadal. Kurasakan kedua sikuku yang terbuka lecet-lecet, perih sekali rasanya seperti disilet lalu disiram air cuka. Tapi saat itu pula cahaya lampu senter yang cukup terang menyapu area di sekitarku. Refleks, aku berguling ke samping merapatkan diri lagi pada dinding parit dalam posisi tiarap.

Dadaku semakin berdebar ketika kudengar salah satu dari mereka pun mengikuti caraku untuk turun ke bawah dengan cara meluncur dengan pantatnya. Tidak ada jalan lain, aku harus berlari kembali sebelum mereka sampai pada jarak yang membahayakan untukku. Dengan kelincahan yang mulai berkurang karena kelelahan, aku bangkit dan berlari menyisir tepian dasar parit itu sekencang-kencangnya.

Kudengar salah satu dari mereka berteriak kepada kawannya yang di atas karena pastinya dia telah melihatku dan mulai mengejar. Lampu senter mereka menyorotku sehingga aku benar-benar seperti babi buruan yang terkepung. Aku enggan menyerah karena aku merasa ini bukan main-main. Jika sampai tertangkap, aku yakin tidak akan pernah bisa pulang ke rumah lagi dengan membawa nyawaku.

Ada sesuatu yang menyambar di samping telinga kananku, mendesing seperti peluru. Batu! Anjing-anjing itu melempariku dengan batu! Jangkrik! Aku benar-benar hampir putus asa kini, tapi aku tak akan menyerah..tak boleh! Aku harus berhasil lolos! Beberapa meter lagi aku akan sampai pada tikungan di ujung parit karena sudutnya sudah terlihat dalam cahaya bulan purnama sementara pengejarku yang di atas mau tidak mau harus turun karena sisi parit sebelah atas itu tertutup oleh rimbun pohon dan pagar kayu lemon. Aku berharap setelah tikungan itu aku akan berjumpa dengan pemukiman penduduk. Sedikit lagi….

Tiba-tiba sesuatu menumbuk kepalaku dari belakang, aku tersungkur….

Aku tersentak bangun dan hampir-hampir jatuh dari sofa. Napasku memburu dan keringat membasahi bajuku. Masih kebingungan mataku nyalang mencoba mengenali sekitarku. Apa ini? Apakah aku bermimpi?

Ah, ternyata aku sedang berada di ruang tamu rumah Santoso, kawanku sejak kecil! Aku pasti tertidur di sini! Ya..ya..aku memang bermimpi, bukan mengalaminya benar-benar! Syukurlah, Tuhan. Sungguh tak ada lagi kelegaan yang paling sempurna seperti yang kurasakan saat ini. Ternyata hanya mimpi!

Sungguh jangkrik!

“Sudah bangun?” kudengar sebuah suara perempuan yang merdu dan kulihat Ratih tengah berdiri dan menatap padaku sambil tersenyum.

“Eh..ah..sudah,” jawabku masih dengan sisa-sisa kebingungan. Gila, aku tadi memang bermimpi, tapi rasa-rasanya seperti nyata dan sampai kini pun jantungku masih terdengar cepat iramanya.

“Mimpikah?” tanyanya lagi sambil bergerak mendekat dan kemudian duduk di sebelahku, “Kau kelihatan buruk.”

“Hmm..iya, aku bermimpi…mungkin,” jawabku gugup.

Dan kegugupanku justru bertambah karena Ratih berada di dekatku. Kuakui pesonanya tidak pernah pudar di mataku sejak dahulu sebelum aku menikah dan dia pun menikah dengan sahabatku, Santoso. Tubuhnya masih molek karena memang belum pernah melahirkan anak. Apalagi kini dia memakai daster yang seksi dengan potongan leher yang lebar dan turun hingga memamerkan belahan dadanya yang mulus dan montok. Rambutnya yang panjang dan basah sehabis mandi keramas terurai ke depan sementara aroma segar sabun herbal tercium dari tubuhnya, membuatku kepanasan.

“Maaf, kutinggal lama sampai kau tertidur,” katanya.

“Kenapa Santoso belum pulang juga?” tanyaku basa-basi dan mencoba mencuri-curi pandang ke belahan dadanya yang terlihat. Air liurku langsung mengumpul dan kutelan dengan berat.

Ratih tertawa kesenangan dan sepertinya bangga karena aku terlambat untuk memindahkan pandangan mata nakalku karena kemudian justru didekatkannya buah dada itu ke mukaku dengan gerakan yang dramatis dan bertanya:

“Kau suka dengan ini?”

Aku tertawa kecut dan malu. Jangkrik memang perempuan satu ini!

Kemudian dia surut sambil melemparkan rambutnya ke belakang dengan gerakan kepala yang sangat, sangat, sangat menggoda. Matanya mengerling nakal.

“Mas Santoso barusan telepon kalau dia harus mengantarkan kawannya dulu ke rumah sakit.”

“Kenapa kau tidak bilang dari tadi?”

“Waktu dia telepon aku kan belum berpakaian. Tidak mungkin ‘kan aku memberitahumu saat itu juga? Apalagi kau sedang enak-enak tidur.”

“Oh…” hanya itu tanggapanku sambil kembali menelan ludah.

Kenyataan bahwa Santoso belum akan segera pulang dan Ratih yang benar-benar menggoda membutakan akal sehatku. Setelah itu, beberapa kata-kata jorok yang mengundang setan terucapkan dalam obrolan kami berdua, silih berganti. Ditambah dengan pesona panas Ratih, patutlah jika kami akhirnya benar-benar terbakar.

Tidak perlu dikatakan siapa yang memulainya, di sofa itu kami berpagutan dan bergumul dengan liar. Ratih merintih-rintih, aku menggeram seperti kucing menemukan daging hingga semua pakaian yang kami kenakan telah terlucuti dalam waktu singkat. Polos. Persetan dengan Santoso!

Tiba-tiba saja, Ratih yang tengah terbakar dengan nafsu yang dikobarkannya sendiri dan tengah berada di atas tubuhku dengan agresif berteriak sembari menyemburkan ludah ke wajahku :

“Hei! Bangun!”

Aku tak perduli, kutarik tubuhnya lekat ke tubuhku…

“Bangun!”

Masih tak peduli.

“Bangun! Bangun! Bangun!”

Aku bangun dengan gelagapan, tubuhku basah dan istriku berdiri di depanku memegang gayung sambil memercik-mercikkan air dengan jari-jari tangannya ke wajahku. Astaga! Kenapa Ratih yang cantik, molek dan menggoda berubah menjadi istriku? Aku bermimpi lagi? Lalu yang sebelum dan sebelumnya lagi apa? Mimpi dalam mimpi?

Jangkrik!

“Tidur saja kerjamu!” istriku yang gendut dan menyebalkan itu mengomel.

Aku mengusap wajahku yang basah. Ada yang aneh di sini.

“Ya,” kataku antara kebingungan dan masih sedikit menyesali mimpi yang indah barusan harus terpotong dengan paksa, “tapi kau tidak seharusnya melakukan ini. Lihat, aku basah kuyup.”

“Jika tidak begitu, apa kau akan bangun?”

“Huh,” aku mencibir.

“Siang-siang begini kau bermalas-malasan. Gantian kau yang mengawasi anak-anak, aku yang akan tidur!” katanya ketus dan merebahkan tubuhnya di sampingku dengan menimbulkan goncangan yang parah pada ranjang.

Aku bergeser sedikit, memberi tempat untuknya yang segera berbaring memunggungiku. Mimpi dalam mimpi yang aneh, pikirku. Seperti sungguh-sungguh nyata. Kalau boleh memilih, aku akan senang sekali untuk menjadikan mimpiku yang kedua tadi menjadi kenyataan. Masih terbayang kelembutan tubuh Ratih yang telanjang, lalu wangi tubuhnya..hmm…aku tersenyum-senyum sendiri.

Istriku tiba-tiba berbalik dan memaki:

“Kau memikirkan Ratih, ya? Bagus! Ada aku di sampingmu dan kau berani memimpikan untuk tidur dengan perempuan lain? Dasar laki-laki!”

Aku tergagap. Kenapa dia bisa tahu apa yang kupikirkan? Istriku yang gendut itu seperti kesetanan, terdengar bertambah kasar lagi omelan-omelannya lalu dengan sekuat tenaga didorongnya tubuhku dari ranjang. Aku jatuh ke air yang dangkal. Tubuhku basah kuyup.

Hei! Ini air! Aku gelagapan.

Istriku meloncat mengangkangi tubuhku dan menendangku hingga aku terguling-guling dan tertelungkup dengan keseluruhan wajah terendam ke dalam air. Aku makin gelagapan dan sulit bernapas. Bahuku dicengkeram dan dibalikkan, lalu sebuah pukulan menyusul melanda kepalaku. Aku mengaduh kesakitan. Mataku berkunang-kunang dan penglihatanku menjadi gelap. Satu pukulan keras lagi-lagi menyusul mendarat di pelipisku, sakitnya tidak kepalang dan kurasakan suatu cairan yang hangat mengalir dari sana menggenangi mata kiriku.

Darah!

Mataku mengerjap-ngerjap dan kuusahakan untuk terbuka. Aku seperti terbangun dari tidur yang panjang dan membingungkan. Masih mimpikah? Mimpi yang mana lagi sekarang?

Di hadapanku, dua orang berdiri mengangkang dengan lampu senter yang berkedip-kedip menyerang mataku. Kurasakan sekujur tubuhku basah dan menggigil. Lalu mereka berdua menyeret tubuhku dari air parit yang dangkal itu dan melemparkanku ke sisi seperti melemparkan karung basah. Aku bergulingan, mengaduh dan terbatuk-batuk.

“Rasakan itu, Bung Wartawan! Tulisanmu itu pantas menjadi tulisan tahun ini dan kami harus memberimu penghargaan untuk itu!” kata salah seorang dari mereka.

Oh, ini bukan mimpi? Tidak! Ini mimpi dan aku ingin kembali saja kepada mimpiku yang sebelumnya, tidak usah mimpi tentang Ratih istri Santoso yang menggairahkan, tapi mimpi tentang istriku yang gendut dan suka mengomel itu saja aku bersedia. Jangan mimpi yang ini!

Aku melolong.

“O, sudah sadar? Bagus! Biar bisa kau nikmati kematianmu pelan-pelan,” kata salah satu dari mereka itu lagi.

Gusti!

Sebuah teror yang mencekam membuat punggungku meremang dan dingin ketika dalam terang dua lampu senter itu kulihat mereka meloloskan sabuk dari pinggang mereka, sabuk bergesper besar dan tak jelas bentuknya karena penglihatanku pun telah terganggu dengan basah air parit bercampur darah yang mestinya pekat dan tak berhenti mengucur dari pelipisku.

“Salam dari Juragan,” kalimat itu yang terakhir kudengar dari mulut salah seorang dari mereka sebelum sabuknya itu berputar dan menghantam kepalaku.

Jangkrik!

*****

Iklan