Semua orang terlihat sibuk dalam beberapa hari ini. “Besok adalah Hari Ibu,” kata mereka. Tapi apakah hari itu akan berarti buat ibuku? Yang juga kata orang, Ibu adalah seorang perempuan murahan, perempuan bayaran, sundel atau yang lebih sering kudengar sebutan untuk Ibu adalah seorang pelacur. Aku adalah anak dari Ibu, anak dari seorang pelacur. Kata orang ibuku tak pantas disebut ibu, karena seorang ibu seharusnya tidak akan membiarkan anaknya bergentayangan di lokalisasi; seorang ibu tak akan menafkahi anaknya dengan uang haram.

Tapi Ibu tidak perduli dengan apa yang dikatakan orang-orang itu, sebagaimana orang-orang itu juga tak pernah perduli kami. Seperti  dahulu, mereka juga tidak perduli ketika Ibu menangis dalam hujan yang deras. Saat nyonya majikan yang terhormat, yang dulu mempekerjakan Ibu untuk bantu-bantu di rumahnya. Mengusir Ibu. Setelah sebelumnya memukul, menendang serta mencaci maki ibu untuk kemudian melemparnya ke jalanan.

Ibu dituduh telah menggoda suaminya yang terhormat, karena suatu hari ia mendapati suaminya sedang berada dalam satu ranjang bersama Ibu. Sedang saat itu Ibu sedang tumpah dalam isak tangis. Padahal pada malam laknat itu Ibu diperkosa oleh suami nyonya majikan yang sebelumnya juga telah berkali-kali mencoba memerkosa Ibu namun selalu gagal. Tapi entah kenapa malam itu, Ibu tiba-tiba merasakan kantuk yang sangat dan tersadar ketika tubuhnya telah telanjang bulat. Dan saat itu, suami sang nyonya terhormat sedang berada di atas tubuh ibu dengan nafas memburu serta keringat yang bercucuran, menodai Ibu.

Mungkin itulah nasib seorang perempuan yang tidak lagi memiliki suami atau janda, pikir Ibu waktu itu, yang selalu saja dipandang sebelah mata oleh para lelaki. Padahal Ibu sendiri tidak menginginkan status itu melekat dalam dirinya. Tapi apa mau dikata, lelaki yang dulu pernah dicintaiya ternyata tergoda seorang perempuan yang bekerja sebagai penari ronggeng. Dan Ibu pun memilih bercerai dibandingkan Ibu harus dimadu.

Ketika berjalan tertatih dalam hujan, dengan sekujur tubuhnya yang terasa perih sebagaimana perih luka dihatinya saat itu, Ibu pun harus menerima kekasaran dari sekelompok laki-laki yang tiba-tiba saja menyeret Ibu ke sebuah tanah lapang. Bukan satu orang, tapi dua, tapi juga tiga, empat, lima dan sejuta rasa sakit yang Ibu rasakan dihati. Perih dalam perih yang lebih ribuan kali rasanya.

Tak ada uluran tangan, ketika semua derita itu Ibu rasakan. Bahkan Tuhan pun kehilangan kuasa-Nya di mata Ibu saat itu. Tidak nampak kehadiran-Nya. Padahal  kata orang, “Tuhan ada di mana-mana.” Tidak! Tuhan itu kejam! Tuhan itu pilih kasih! Tuhan hanya menolong orang-orang kaya dan berduit saja, yang semua kemewahannya didapat dari menjajah kehidupan banyak orang. Atau Tuhan lebih mencintai para koruptor?! Yang bisa melenggang keluar masuk penjara meski status mereka adalah seorang tahanan.

Dia adalah ibuku, yang telah melahirkan aku. Yang semenjak aku masih dalam rahimnya, aku sudah sering mendengar beribu-ribu kali cibiran, caci maki yang ditujukan kepada Ibu. Ketika Ibu yang pada akhirnya memutuskan untuk tetap membesarkan aku, setelah kejadian malam laknat itu. “Dasar perempuan sundel! Bunting gak ketaun lakinye. Keganjenan sih, Lo.” Itu sering mereka ucapan, atau yang lainnya,”dasar perempuan lacur!”

Belum lagi sejuta sendal jepit ataupun ludah yang setiap saat harus singgah dengan mesra di wajah Ibu. Pandangan mata para perempuan yang terhormat, yang tak pernah sedikit pun bisa memberi rasa hormat kepada sesama kaumnya. Belum lagi, para lelaki dari perempuan terhormat itu. Yang setiap saat memandang dengan penuh gelora nafsu, seolah ingin melahap tubuh Ibu bulat-bulat. Colekan, cubitan nakal, lirikan mata menggoda yang mereka tunjukan kepada Ibu tanpa pernah melihat, bahwa Ibu adalah sebagaimana Ibu mereka. Bahwa Ibu juga adalah sebagaimana kakak dan adik perempuan mereka.

Sudah sering kali, Ibu harus membuat kepala para lelaki dari para perempuan terhormat itu berdarah-darah. Terseok-seok jatuh ketika kemaluannya terkena hantaman keras dari kaki  dan juga lutut Ibu. Belum lagi tanda cakaran di wajah mereka. Semua mereka dapat disaat mereka mencoba melampiaskan nafsu bejat mereka kepada Ibu. Namun tetap saja, perempuan-perempuan terhormat itu tak ada bedanya dengan Nyonya majikan Ibu terdahulu. Seolah para lelaki mereka adalah orang suci yang tak akan pernah sudi menyentuh tubuh Ibu yang dianggap kotor.

Disuatu malam yang dingin lagi sepi, disebuah tanah lapang yang berbeda, di sanalah Ibu melahirkan aku seorang diri. Tanpa perawat, tanpa dokter, bidan atau dukun beranak sekalipun yang hadir menemani Ibu. Dan aku lahir tanpa tangisan sebagaimana layaknya tangisan seorang bayi. Karena aku tahu, yang Ibu butuhkan bukanlah sebuah tangisan namun seulas senyum dari bibir mungilku. Yang mampu menghancurkan semua duka nestapa dalam hati Ibu. Untuk itulah aku diberi nama Lapang oleh Ibu, cukup Lapang saja.

Semua orang sibuk karena sebentar lagi akan datang hari istimewa yang disebut Hari Ibu. Tapi bagi ibuku yang seorang pelacur, yang dianggap perempuan kotor. Hari itu baginya adalah hari yang sama seperti hari-hari yang lain, dimana Ibu harus tetap menjajakan kemolekan dan keindahan tubuhnya kepada semua lelaki yang dianggap suci oleh perempuan-perempuan terhormat itu.

Kata mereka Hari Ibu adalah hari istimewa untuk mengenang jasa-jasa dan pengorbanan dari seorang Ibu. Tapi ibuku adalah seorang pelacur, seorang ibu yang pada suatu malam merasa resah dan gelisah. Ketika diriku yang masih merah tiba-tiba diserang panas tinggi karena lapar. Air susu yang seharus ada untukku, anugerah yang seharusnya Tuhan berikan kepadaku. Ternyata sejak pertama aku lahir tak pernah mengalir dari payudara Ibu.

Seorang ibu yang kebingungan ke sana ke mari mencari apa yang bisa diberikan untuk anaknya tersayang. Dari setiap pintu rumah orang-orang terhormat yang dia datangi, tak ada satupun pintu yang sudi untuk sedikit saja terbuka. “Anakku butuh susu. Tolonglah! Kumohon…, tolonglah! Satu kali ini saja!” pinta Ibu memohon keperdulian dan belas kasih dari mereka. Namun semua semua pintu itu tetaplah rapat terkunci. Hingga akhirnya Ibu memberikan tubuh indahnya untuk dinikmati seorang laki-laki, untuk ditukar dengan beberapa lembar rupiah. Rupiah yang dipakainya untuk membeli sekaleng susu penuh gizi untukku. Dan sejak itulah sebuah cap yang dahulu hanya cibiran dari mulut-mulut berbisa itu. Kini dengan terpaksa melekat erat dalam dirinya. Ibu telah benar-benar menjadi seorang pelacur yang menjajakan keindahan dan kemolekan tubuhnya demi rupiah.

Ibu hanya berkata setiap saat aku bertanya tentang apa yang dikerjakannya. Beliau hanya menjawab, “jasad ini hanyalah tempat singgah dari siapa diri Ibu yang sebenarnya, nak. Dunia ini fana, dunia ini palsu. Ibumu adalah apa yang ada didalam jasad yang akan membusuk nanti. Ibumu yang sebenarnya, yang meski jasad ini tekubur dalam tanah, akan selalu ada untukmu.”

Pelacur itu adalah ibuku, aku adalah anak seorang pelacur. Bukan anak seorang perempuan terhormat seperti yang mereka miliki. Tak ada kata yang istimewa yang mampu kupersembahkan untuknya di hari yang seharusnya istimewa untuk Ibu, tak ada bingkisan kado yang mampu kuberikan untuknya. Tapi hanya sebuah senyuman dan tawa tanpa pernah ada air mata, yang selalu ingin kupersembahkan untuknya. Karena bukan tangis dan airmata yang Ibu butuhkan setiap saat. Tapi seulas senyum dan tawa lepas yang mampu meruntuhkan semua perih dari luka yang ada. Pelacur itu adalah ibuku, yang menetap dalam jasad yang akan membusuk. Jasad yang ingin ku peluk untuk bisa menyampaikan semua rasa kasih dan cinta, jauh ke dalam dirinya yang sebenarnya,”aku sayang ibu…”

Iklan