RSS

Arsip Kategori: Naim Ali

Puisi di Luar Mimpi

kabarnya menjalar dari mata ke bibir,
lalu bibir mengulum kuping kemudian banyak yang nyengir.
bahwa ia sanggup menemukan juga menerka puisi
yang bakal dari mimpi malam milik orang-orang kasihan,
meski hal demikian bukan ia harapkan
bahkan mengakibat ia jengah menampakkan diri.

sampai akhirnya berbagai orang kasihan rela
mengantrikan waktu mereka padanya
agar ia mengorek habis semua puisi
dalam mimpi yang baru mereka temui.

“semalam kutemui bidadari menggotong berkarung cabai!”
“bolaku kempes digigit pak kades!”
“sekolah anakku roboh digilas gedung tinggi!”
“aneh, bom ikan kujadikan rompi. ada apa ini?”
“kenapa aku jadi kenek pesawat terbang,
bukankah pesawat tidak butuh kenek?”
dan masih banyak mimpi mereka bila dituruti.

karena gerah enggan menggubris jawaban,
ia sembunyi di kamar mandi. lama sekali.
“jangan ganggu aku dulu”, katanya pada istrinya yang takut hampir mati.
sedang orang-orang kasihan masih rela mengantri tidak mau mati.

“aku menulis puisiku sendiri untuk mimpiku malam nanti.”
“sudah jadi?” tanya istrinya hati-hati.
“tidak jadi!” sambil menenggelam diri dalam bak mandi.
“nafasku luntur disini. usir saja mereka
atau bantu aku menulis puisi.”
__________
april, 2011

 
2 Comments

Posted by pada 20 Agustus 2011 in Naim Ali, Puisi

 

Impoten

rasanya aku akan mencumbumu lagi bila engkau masih saja melirikku binal seperti itu. entahlah. padahal engkau hanya selembar kosong. tapi setiap kali lenggangmu di hadapanku, akan engkau  tinggali sehelai pintu yang sebelumnya sudah kau tiupi semerbak birahi. pasti kuhampiri pintumu itu. lekas kuhirup dalam, lalu kusibak perlahan dengan mataku yang tidak mungkin berkedip. kemudian terbukalah duniamu: halus kulit biru langit yang kadang kelabu, kadang merona jingga, juga sujud gunungmu pada mata air yang paling dalam, dan tapak tetumbuhan hutan yang begitu lebat kesegarannya. maka menghangatlah nafasku dan akan kutelusuri semua itu.

tapi penaku tak bisa berdiri kali ini. tiba-tiba nafasku menghembuskan dingin yang begitu sepi. tidak setetes tintapun yang bisa kumuntahkan lagi.

mungkin karena tiba-tiba engkau menggemulai tatih. sia pelukanmu, sebab engkau terus menunduk dan merintih perih. bukan lagi sehelai pintu yang seharusnya kau jamahkan padaku, tapi sobekan kain kumal busuk dengan ribuan lalat mengerubung, lalu lalat-lalat itu menelanjangi mataku dan memuntahkan duniamu dalam kedipanku: hamparan kulit kasar. menyerupa negeri dipenuhi gerombolan kuman yang menyerap habis susu dari seluruh lautanmu, menggerogoti semua akar hingga rimbunan belantaramu rubuh. tidak berpegunungan, hanya bukit-bukit tipis dari bongkahan amis. kitaran awannya hanyalah gumpalan-gumpalan batu besar yang tinggal menunggu dilempar gelegar halilintar.

maka seketika penaku lumpuh. tidak seaksara pun dari tubuhmu mampu tersentuh.

 
3 Comments

Posted by pada 20 Agustus 2011 in Naim Ali, Puisi

 

Bukan Puisiku

/1/
akan ada petaka sekejap
setelah jarum jam tak sempat bicara.
meronta bulu kudukmu
seringkih malam meradang, atau
perutmu membusung, lalu
tak punya satu apapun untuk ditata.
jasadmu mati di bawah pohon kering,
buahnya keriput.

sampaikan kabar gembira ini
bagi siapa yang tersenyum lebar.

/2/
pada hari
bumi latah
dengan guncangan dahsyat,
untahan dari kandungan berat.

pada hari
segalanya lebur
terbang seringan bulu-bulu,
poranda dan kelam.

pada hari
kamu bangkit dari kubur
hanya mampu bertanya
tanpa aksara tanpa aksara.
ada apa?

dan hari ini
kamu hanya bisa mengintip
sedikit demi sedikit
karena kamu masih berdiri
jauh dari kubur.

/3/
di sepanjang jalan cadas
sebagian orang mengatakan, banyak
pohon rindang dan wangi bunga-bunga menggeliat.
tetangga belakang rumah
mengatakan engkau tak bisa bernafas.
seorang teman baru bercerita
bisa menari dan berlari tanpa kaki

kemarin jalan itu kau lintasi
tidak terasa apa.
kau hanya terus menerka
kapan segera tiba?

 
2 Comments

Posted by pada 20 Agustus 2011 in Naim Ali, Puisi, Religius

 

Kaitkata: ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.