RSS

Arsip Kategori: Romantis

Semua Yang Tidak Lagi Sama

Semua tak lagi sama. Diriku jatuh pada kesendirian dan kesepian tanpa dirimu lagi. Hari-hari yang baru tampak asing bagiku. Entah, mengapa  semua seolah nampak masih sama? Tapi aku merasa harus tetap berusaha untuk bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Sementara itu juga, aku masih harus merasakan  sakit di dalam dada ini karenamu. Menangis, selalu saja aku melewati malam dengan menangis. Kadang bosan, namun aku tak bisa menghindari bayangan dirimu yang selalu datang. Menyiksa diriku dalam rindu yang tak mungkin lagi terwujud. Akan terdengar bodoh, seandainya diriku merindukan dirimu yang telah nyata-nyata menyakiti hatiku.

Aku selalu mencoba untuk mengikhlaskan semua yang terjadi, mencoba mengatakan pada diriku sendiri bahwa inilah yang terbaik untuk diriku. Meskipun terasa perih. Aku mencoba percaya akan kuasa Tuhan. Aku mencoba untuk kembali mendekatkan diriku kepada Nya. Apakah ini lebih baik untuk ku ketahui daripada aku tak mengetahui ini semenjak awal? Aku tak tahu pasti. Aku harus berperang dengan  diriku sendiri, yang selalu merasa bahwa semua ini adalah semata karena kesalahan diriku; karena kekurangan yang ada pada diriku; karena kebodohanku! Aku terpuruk pada rasa rendah diri dan jauh dari rasa percaya diri. Seolah aku tak lagi bisa melihat kebaikan yang ada pada diri ini. Read the rest of this entry »

 
5 Comments

Posted by pada 9 Juli 2011 in Cerpen, Dede Syahroni, Romantis

 

Kaitkata: ,

Trilogi Tiga Hati

Oleh: Ramdhani Nur

Tria terjebak di depan sebuah etalase meubel antik. Hujan sepertinya akan berhenti saat dia berangkat dari rumah tadi. Tapi ternyata tidak. Untunglah dia cepat menemukan trotoir yang cukup nyaman ketika hujun turun menggila. Tria berdiri mematung, membiarkan blus putihnya tetap basah. Galau dan resah jelas terlihat dari wajah dan gerak-geriknya yang tak pernah tercipta sempurna. Berkali-kali diantara usapan keras di lengannya, jemari lentiknya meraih hand phonenya untuk sekedar memijit salah satu tombol kemudian menaruhnya kembali pada tempat semula. Setelah itu wajahnya berubah kecut.

Hari belum gelap benar tapi jarak pandang memang agak sedikit kabur oleh garis hujan yang rapat. Di atas kepala Tria, tenda yang terbuat dari terpal seperti memainkan harmoni saat beradu dengan air hujan yang menghempas. Pikiran kosongnya hampir saja larut ke dalam alunan itu sebelum sebuah getaran di tas kecil menganggetkan Tria. Kali ini dia mengangkat hand phonenya dengan sedikit geram. Read the rest of this entry »

 
4 Comments

Posted by pada 7 Juli 2011 in Cerpen, Ramdhani Nur, Romantis

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.