RSS

Arsip Kategori: Realis

Aku Bukan Lelaki Jahanam itu

“Hen.. Hendra!” samar-samar aku mendengar suara memangil-manggil namaku, lalu sentuhan lembut terasa di pipiku.

“Hen, kita sudah sampai, sayang…” ucap suara lembut itu lagi. Dengan bersusah payah, aku coba untuk bisa membuka mata ini. Tapi… Akh! Kepala ini terasa berat sekali. Pening. Dan dalam samar pandanganku, aku menoleh ke arah suara itu. Seorang wanita yang aku kenal tersenyum menatap diriku. Dia adalah Tante Siska.

“Udah sampai kita, Tante?” tanyaku sambil memegang kepalaku yang terasa berat ini. Tante Siska hanya menganggukan kepala. Lalu ia pun membuka pintu, keluar dari mobil, dan berjalan memutar menghampiri pintu dimana aku duduk.

Dibukanya pintu mobil itu,”yuk, tante bantu kamu turun.”

 Lalu diletakannya tanganku di bahunya, sementara tangan kanannya melingkar di pinggangku. Membantu diriku untuk turun dari mobil dan berdiri.

“Kamu mabuk berat tadi, sayang..” ucap Tante Siska, sambil tangannya mengelus lembut pipiku. Read the rest of this entry »

 
4 Comments

Posted by pada 25 Juli 2011 in Cerpen, Dede Syahroni, Humanis, Realis

 

Kaitkata: , ,

Pelacur Itu Ibuku..

Semua orang terlihat sibuk dalam beberapa hari ini. “Besok adalah Hari Ibu,” kata mereka. Tapi apakah hari itu akan berarti buat ibuku? Yang juga kata orang, Ibu adalah seorang perempuan murahan, perempuan bayaran, sundel atau yang lebih sering kudengar sebutan untuk Ibu adalah seorang pelacur. Aku adalah anak dari Ibu, anak dari seorang pelacur. Kata orang ibuku tak pantas disebut ibu, karena seorang ibu seharusnya tidak akan membiarkan anaknya bergentayangan di lokalisasi; seorang ibu tak akan menafkahi anaknya dengan uang haram.

Tapi Ibu tidak perduli dengan apa yang dikatakan orang-orang itu, sebagaimana orang-orang itu juga tak pernah perduli kami. Seperti  dahulu, mereka juga tidak perduli ketika Ibu menangis dalam hujan yang deras. Saat nyonya majikan yang terhormat, yang dulu mempekerjakan Ibu untuk bantu-bantu di rumahnya. Mengusir Ibu. Setelah sebelumnya memukul, menendang serta mencaci maki ibu untuk kemudian melemparnya ke jalanan.

Read the rest of this entry »

 
7 Comments

Posted by pada 2 Juli 2011 in Cerpen, Realis

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.