RSS

Arsip Kategori: Cerpen

Bukan Puisiku

/1/
akan ada petaka sekejap
setelah jarum jam tak sempat bicara.
meronta bulu kudukmu
seringkih malam meradang, atau
perutmu membusung, lalu
tak punya satu apapun untuk ditata.
jasadmu mati di bawah pohon kering,
buahnya keriput.

sampaikan kabar gembira ini
bagi siapa yang tersenyum lebar.

/2/
pada hari
bumi latah
dengan guncangan dahsyat,
untahan dari kandungan berat.

pada hari
segalanya lebur
terbang seringan bulu-bulu,
poranda dan kelam.

pada hari
kamu bangkit dari kubur
hanya mampu bertanya
tanpa aksara tanpa aksara.
ada apa?

dan hari ini
kamu hanya bisa mengintip
sedikit demi sedikit
karena kamu masih berdiri
jauh dari kubur.

/3/
di sepanjang jalan cadas
sebagian orang mengatakan, banyak
pohon rindang dan wangi bunga-bunga menggeliat.
tetangga belakang rumah
mengatakan engkau tak bisa bernafas.
seorang teman baru bercerita
bisa menari dan berlari tanpa kaki

kemarin jalan itu kau lintasi
tidak terasa apa.
kau hanya terus menerka
kapan segera tiba?

 
2 Comments

Posted by pada 20 Agustus 2011 in Naim Ali, Puisi, Religius

 

Kaitkata: ,

Aku Bukan Lelaki Jahanam itu

“Hen.. Hendra!” samar-samar aku mendengar suara memangil-manggil namaku, lalu sentuhan lembut terasa di pipiku.

“Hen, kita sudah sampai, sayang…” ucap suara lembut itu lagi. Dengan bersusah payah, aku coba untuk bisa membuka mata ini. Tapi… Akh! Kepala ini terasa berat sekali. Pening. Dan dalam samar pandanganku, aku menoleh ke arah suara itu. Seorang wanita yang aku kenal tersenyum menatap diriku. Dia adalah Tante Siska.

“Udah sampai kita, Tante?” tanyaku sambil memegang kepalaku yang terasa berat ini. Tante Siska hanya menganggukan kepala. Lalu ia pun membuka pintu, keluar dari mobil, dan berjalan memutar menghampiri pintu dimana aku duduk.

Dibukanya pintu mobil itu,”yuk, tante bantu kamu turun.”

 Lalu diletakannya tanganku di bahunya, sementara tangan kanannya melingkar di pinggangku. Membantu diriku untuk turun dari mobil dan berdiri.

“Kamu mabuk berat tadi, sayang..” ucap Tante Siska, sambil tangannya mengelus lembut pipiku. Read the rest of this entry »

 
4 Comments

Posted by pada 25 Juli 2011 in Cerpen, Dede Syahroni, Humanis, Realis

 

Kaitkata: , ,

Tuhan Telah Pulang

Oleh: Ramdhani

Tuhan telah pulang
tersesat di antara rembulan
kala matahati bisu dari dzikir
Melekatlah dahi ini mengganjilkan bilangan-bilangannya

Tuhan telah pulang
bertamu di mesjid-mesjid
di surau
di kantor
di sekolah
di pasar
di jalan raya
di rumah-rumah
di hati
di napas
di darah kami

mengantri kami berjabat tobat, karena kami rindu menyapu laknat saat Kau pergi

Sungguh Tuhan telah pulang
kami bersimpuh di genggaman-Mu
berharap Kau tak lagi menghilang

Cirebon, 30 Sya’ban 1430

 
2 Comments

Posted by pada 17 Juli 2011 in Puisi, Ramdhani Nur, Religius

 

Kaitkata: , , ,

Kelahiran

Aku sering sekali bermimpi. Ular-ular, entah dari mana datangnya mengerubuti dan membelit-belit kedua kakiku, merayap naik dan mematuki perut buncitku.

“Aku takut sekali, Mas,” kataku pada suamiku untuk kesekian kali.

“Ah, berapa kali harus bilang kalau itu cuma mimpi..tidak usah terlalu banyak dipikir,” jawabnya pendek. Selalu begitu. Anehnya aku selalu terdiam. Mungkin memang benar, cuma mimpi, tapi kenapa selalu berulang sampai tujuh kali?

Kata orang, perempuan yang sedang hamil selalu mempunyai perasaan yang aneh-aneh, bahkan kadang melakukan tindakan-tindakan yang aneh pula. Melihat gejala yang kualami ini, aku bisa membenarkan. Tapi semua menjadi tidak benar jika aku teringat asal muasal mimpi-mimpi burukku itu.

Saat usia kehamilanku baru empat bulan, mas Santo, suamiku yang baru pulang dari sawah, bercerita padaku bahwa dia bertemu ular di tegalan. Read the rest of this entry »

 
5 Comments

Posted by pada 16 Juli 2011 in Aris K. Basuki, Cerpen, Horor

 

Semua Yang Tidak Lagi Sama

Semua tak lagi sama. Diriku jatuh pada kesendirian dan kesepian tanpa dirimu lagi. Hari-hari yang baru tampak asing bagiku. Entah, mengapa  semua seolah nampak masih sama? Tapi aku merasa harus tetap berusaha untuk bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Sementara itu juga, aku masih harus merasakan  sakit di dalam dada ini karenamu. Menangis, selalu saja aku melewati malam dengan menangis. Kadang bosan, namun aku tak bisa menghindari bayangan dirimu yang selalu datang. Menyiksa diriku dalam rindu yang tak mungkin lagi terwujud. Akan terdengar bodoh, seandainya diriku merindukan dirimu yang telah nyata-nyata menyakiti hatiku.

Aku selalu mencoba untuk mengikhlaskan semua yang terjadi, mencoba mengatakan pada diriku sendiri bahwa inilah yang terbaik untuk diriku. Meskipun terasa perih. Aku mencoba percaya akan kuasa Tuhan. Aku mencoba untuk kembali mendekatkan diriku kepada Nya. Apakah ini lebih baik untuk ku ketahui daripada aku tak mengetahui ini semenjak awal? Aku tak tahu pasti. Aku harus berperang dengan  diriku sendiri, yang selalu merasa bahwa semua ini adalah semata karena kesalahan diriku; karena kekurangan yang ada pada diriku; karena kebodohanku! Aku terpuruk pada rasa rendah diri dan jauh dari rasa percaya diri. Seolah aku tak lagi bisa melihat kebaikan yang ada pada diri ini. Read the rest of this entry »

 
5 Comments

Posted by pada 9 Juli 2011 in Cerpen, Dede Syahroni, Romantis

 

Kaitkata: ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.